Tulisan di bawah diambil dari Notes amang Pdt RHL Tobing di Facebook nya, atas persetujuan beliau.

MENGAJARKAN CERITA ALKITAB YANG EFEKTIF
KEPADA ANAK SEKOLAH MINGGU
(Sebuah Pedoman Sederhana)

1. Pengantar
Pembinaan Guru SM
Pelayanan Sekolah Minggu (SM) adalah dasar dari seluruh pelayanan gereja. Demikian juga dengan GKPI yang meletakkan dasar pelayanan kepada anak-anak. Karena anak-anak adalah masa depan gereja dan juga penerus warga Kerajaan Allah. Itu sebabnya guru SM memiliki peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan iman anak-anak. Kita tahu bersama bahwa Anak Sekolah Minggu kelak akan menjadi gereja yang akan dating.
Hanya saja, para pelayan gereja kurang memberi perhatian kepada pelayanan SM. Hal ini disebabkan merasa bahwa pelayanan kepada anak-anak adalah tugas para guru SM. Selain itu lebih memberi kesibukan pada pelayanan mimbar dan pembinaan orang dewasa. Padahal tanpa disadari kebiasaan orang dewasa ditentukan mulai dari tingkah laku pada masa kecil. Untuk itu sebagai Pendeta kami sangat mengucapkan terimakasih kepada seluruh Guru-guru Sekolah Minggu, yang telah rela member perhatian kepada anak-anak Sekolah Minggu.
2. Mengapa Kita Mengajar Anak-Anak?.
Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan mendasar kepada kita guru Sekolah Minggu sebelum kita memahami kenapa kita menjadi guru SM. Hal itu dimulai dari:
Pertama, Panggilan dari Allah sendiri. Ul. 6:4-9, yang juga panggilan kita dalam peneguhan guru SM menekankan agar kita mengakui dan mengasihi Tuhan yang esa. Seterusnya pengakuan dan mengasihi Tuhan ini kita teruskan kepada anak-anak kita (dan juga yang lain – termasuk anak SM) baik ketika tidur, bangun, makan, dijalan, dan terlebih di rumah Tuhan di Gereja.
Kedua, membawa anak-anak mencintai dan disayangi Yesus. Mark. 10:14, Yesus berkata ”biarkanlah anak-anak itu datang kepadaku…”. Saya yakin dan percaya, bahwa Firman Tuhan di atas sudah sangat sering bahkan termasuk dalam satu Firman Tuhan ketika seseorang yang percaya Yesus Kristus dibaptiskan. Ya, ini adalah bagian ketika anak-anak kecil (sekitar 14 tahun ke bawah) datang kepada Yesus di antarkan orangtua atau saudara. Namun kenyataan, murid-murid Yesus justru melarang mereka datang menjumpai Yesus. Tindakan murid Yesus pada satu pihak justru betul!. Karena mereka tidak ingin anak-anak yang nota bene sangat mengganggu, ribut, suka bermain-main, tidak tahu etika lingkungan, mengganggu Yesus yang sedang serius mengajar orang banyak. Tapi justru sebaliknya, Yesus justru menganggap tindakan murid-Nya kurang tepat. Karena Yesus sendiri menganggap bahwa anak-anak juga adalah bagian dari murid-murid-Nya yang juga mesti disayangi, dikasihi dan diajarkan tentang Kerajaan Allah (band. Ul. 6:4-9).
Ketiga, agar anak dapat bertumbuh ke arah Kristus dan dapat diselamatkan. Yesus meyakini bahwa diri-Nya sendiri juga pernah mengalami kehidupan sebagai seorang anak kecil. Dan sepanjang itu Dia selalu menerima bimbingan, arahan, ajaran dari orangtua bahkan juga dari guru-guru atau ahli taurat di rumah Allah dan terlebih Allah sendiri (Luk. 2:41-52). Dan hasilnya memang sangat sangat luar biasa. Tuhan Yesus pada akhirnya penuh hikmat, tumbuh dengan sangat dikasihi Tuhan dan manusia (Luk. 2:52). Ini juga yang memotivasi Tuhan Yesus untuk mengajak mereka hidup di dalam naungan kasih-Nya bahkan menjanjikan bahwa merekalah yang empunya Kerajaan Allah. Itu sebabnya Paulus mengajarkan Timotius agar belajar kepada Firman Tuhan yang telah diterima dari kecil karena itu bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (I. Tim. 3:15-17).
Keempat, perintah dari Yesus Kristus sendiri untuk mengajar. Mat. 28:19-20 dikatakan “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”. Dalam teks di atas jelas dikatakan bahwa yang memerintahkan diri kita untuk pergi adalah Yesus sendiri. Pergi untuk memuridkan dan mengajar.
Keempat hal di atas juga akan nampak dalam tujuan Kurikulum Sekolah Minggu yang telah ditetapkan oleh Persekutuan Gereja Indonesia yang disebut ”Kurikulum 88” yakni: ”Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai tugas panggilan gereja adalah usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati Kasih Allah dalam Yesus Kristus, yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungannya”
3. Apa Persiapan Kita Sebelum Bercerita (Mengajar) Kepada Anak SM?.

  • Persiapan rohani : ini sangat penting berhubungan dengan kesiapan kita dalam mengajar SM. Tentu ini berasal dari tugas panggilan kita. Ada guru SM mau menjadi guru SM bukan karena keinginan rohani (karena menjadi berkat bagi anak-anak), melainkan keinginan jasmani, agar dapat tugas dan jabatan di gereja. Padahal ini yang paling penting. Selain itu juga perlu berdoa sebelum memulai tugas tersebut.
  • Persiapan informasi : dalam hal ini pertama, melihat jadwal dan tempat kita masing-masing mengajar SM. Kedua, melihat dan membaca teks alkitab yang diajarkan, juga ayat hafalan, Ketiga, melihat dan membaca apa tujuan teks tersebut, Keempat, melihat situasi anak yang kita ajarkan (biasanya ini untuk pembagian kelas – kecil, menengah dan besar)Persiapan diri/mental : ini tidak kalah penting, karena menentukan keberhasilan kita. Ada orang baru membaca teks pagi sebelum mengajar. Ini tidak baik!. Dapat menyebabkan ketidaksiapan kita untuk mengajar. Lebih baik dipersiapkan selama seminggu. Mis. Senin, kita membaca teks berulang-ulang dan menemukan kerangka dan garis besar cerita dengan memberikan catatan-catatan kecil, Selasa, mencari sudut pandang mana yang paling baik kita bercerita, Rabu, mencari alat-alat peraga yang mendukung, Kamis, memikirkan contoh aplikasi Firman Tuhan yang dapat diterapkan secara konkret kepada anak SM, Jum’at, mematangkan semua dengan mencoba bercerita di rumah, Sabtu, menutup persipan mental dengan berdoa kepada Tuhan sekaligus menguduskan diri.

4. Tekhnik Bercerita
4.1 Persiapan Diri Pembawa Cerita

  • Cara berpakaian: harus rapi, bersih, anggun, leluasa, wajar, dan sesuai dengan keadaan/situasi.
  • Sikap: sikap yang baik adalah mengendalikan tubuh dengan wajar, misalnya mimik, nafas dan lain-lain harus santai, jangan tegang. Usahakan penampilan yang sopan dan leluasa.
  • Gerak-gerik: segalanya harus wajar, hindari gerak-gerik yang berlebihan. Jangan selalu mengulang gerakan yang sama. Jangan menjadi terkenal karena suatu gerakan yang aneh. Tenang dan jangan tergesa-gesa.
  • Pandangan mata: harus memperhatikan semua murid, juga reaksi mereka. Jangan hanya menatap pada satu arah yang sama saja.
  • Suara: jangan terlalu diperhatikan, tapi juga jangan melalaikan penggunaan suara. Pada waktu berbicara, longgarkanlah bagian tenggorokan, tarik nafas yang dalam, kemudian kumpulkanlah suara. Karena hanya dengan berbuat demikian, barulah dapat diperoleh hasil yang paling ideal.
  • Nada suara: perhatikan saat kapan nada suara harus tinggi, rendah, besar, kecil, cepat, lambat, berubah, berhenti dan sebagainya. Adakalanya perlu memakai suara tiruan.
  • Ekspresi: harus dapat mengekspresikan perasaan suka, marah, sedih, gembira, takut, murung, dan lain-lain yang terdapat dalam cerita.
  • Penggunaan istilah: pilihlah penggunaan istilah yang sesuai dengan usia murid, supaya mereka dapat mengerti isi pelajaran. Boleh menggunakan banyak bentuk dialog langsung, dan usahakan sedikit mungkin pemakaian orang ketiga atau pernyataan yang tidak langsung.

4.2. Trik Membuat Anak-Anak Tenang Selama Cerita : Dalam hal ini sebelum memulai bercerita perlu menenangkan anak-anak.

  • Simulasi : Kunci Mulut yaitu memperagakan ”penguncian mulut”. Minta anak-anak mengikuti gerakan mengunci mulut tanpa suara dengan tangan dan kemudian kunci itu dimasukkan dalam kantung masing-masing.
  • Ikrar bersama mis, buatlah satu janji yang diikuti anak-anak, ”saya siap mendengar Firman Tuhan dengan tenang”. ”jika saya anak Yesus, saya mendengar perkataan-Nya”, dll.
  • Lomba : Pendengar setia. Ini membagi kelompok, dengan dipilih ketua kelompok dan diminta menenangkan kelompoknya masing-masing dalam kurun waktu 2 menit.
  • Kuis : Cobalah Tebak mis 5+2 = 5000 sisa berapa (Yesus memberi makan 5000 orang)
  • Mendekati anak yang gelisah/tidak tenang : kita tetap bercerita, dan kita menatap anak-anak yang gelisah/tidak tenang atau kita mendatanginya dengan memegangnya
  • Gerakan/tindakan/kata singkat penarik perhatian mis : memberikan suara keras, membuat gerakan sesuai dengan teks, mimik yang sesuai dengan emosi yang diceritakan, dll.

 
4.3. Metode Guru Bercerita

  • Kreasi ”Boom kejutan di awal cerita” mis. Membuat ilustrasi singkat, mengajak mereka membuat satu kata yang bersemangat mis. Syalom, merdeka, amin, dll.
  • Kreasi ”Alur Cerita” mis. Dari awal – tengah – akhir atau sebaliknya
  • Kreasi ”Alat peraga” mis. Guru sendiri menjadi alat peraga (mengekspresikan wajah), papan tulis, gambar-gambar, kartu, batu dan daun, boneka, atau juga anak itu sendiri.
  • Penghayatan Cerita : olah vokal dan olah tubuh mis. Olah vokal Suara keras – berteriak – lembut – lirih; cepat – lambat – amat lambat; marah – percakapan biasa – sedih; memohon – meratap. Olah tubuh santai – tenang – rileks; lemah – loyo – lesu; seperti orang gemetaran; seperti orang menangis, menjerit, dll.
  • Olah suasana : melibatkan anak dalam cerita; berdiri di tempat yang terlihat semua anak; jangan diam di satu tempat selama cerita
  • Misi penutup ; ajakan atau nasehat beserta pesan-pesan kepada mereka.

4.4. Metode Anak Aktif

  • Kreasi ”Anak terlibat langsung” dalam arti mereka yang memperagakan teks cerita
  • Kreasi ”Acara kelompok” mis. Membuat gambar atau guntingan koran disusun dan dicari artinya
  • Kreasi ”Diskusi Kelompok” mis. Guru bercerita dan anak-anak diberi kebebasan untuk mendiskusikan apa yang diceritakan.

4.5. Penggunaan Sarana Modern : video, film, tape, hp, dll.
5. Langkah-langkah mempersiapkan cerita Alkitab
a. Mengetahui macam-macam cerita dalam Alkitab

  • Cerita sejarah (Penciptaan s/d menara babel, Raja-Raja Israel – I Samuel s/d II Tawarikh)
  • Cerita penggembaraan (Abraham, Ishak dan Yakub Rut, Elia, Elisa,)
  • Cerita kehidupan seseorang (Yesus Kristus, Ayub, Paulus)
  • Cerita Perjuangan (Hakim-Hakim, Daud, Salomo)
  • Cerita Pahlawan (Daud, Ester, Daniel dll)
  • Cerita Kisah Percintaan
  • Cerita Kejadian Yang Menakutkan (Daniel, Wahyu)
  • Cerita Kejadian Yang Lucu, dll.
  • Cerita Mujijat, Perumpamaan yang bisa dibuat dalam bentuk dongeng.

b. Prinsip dalam mengolah cerita

  • Baca teks secara utuh, juga melihat kaitan di depan teks dan di belakang teks. Kenali tokoh, tempat kejadian, waktunya, dan urutan peristiwa
  • Ketahuai tujuan dan inti cerita (lihat perikopen atau buku pedoman)
  • Buatlah catatan-catatan tersendiri kata-kata kunci mis, mengajar, dosa, menyanyi dll
  • Sebuah cerita tidak harus disampaikan secara utuh. Hanya bagian tertentu
  • Bahasakan cerita itu dengan bahasa sendiri
  • Gunakan cara tersendiri dalam menyampaikan cerita (lihat metode guru bercerita di atas)
  • Pahami usia yang diajar dan perhatikan kemampuan mereka:

Perkembangan Balita(2 – 5 tahun) Anak Kecil (6-8 tahun) Anak Tanggung (9-11 tahun) Remaja (12-14 tahun)
Fisik Suka melakukan peran dan bermain; Otot belum tumbuh sempurna; Mudah terserang penyakit; Suka PadaKegiatan Aktif; Tumbuh tetapi tidak mulai tidak cepat; Umumnya kesehatan baik; Pertumbuhan perempuan lebih cepat; Suka Kegiatan Aktif dan kegiatan kelompok Mengalami Perubahan Fisik baik laki dan perempuan; Perubahan pita suara
Mental Rasa Ingin Tahu sangat besar; Ingatan tak baik perlu sering diingatkan; Belajar berhubugan dengan panca indra; Suka bertanya tentang banyak hal; Daya khayal sangat tinggi; Penuh rasa prihatin; Mudah mencetuskan perasaan; Suka menyelidiki hal yang ingin diketahui; Suka bertanya; Mempunyai daya ingat yang baik; Penuh daya kreatif; Suka menguasai, baik dalam percakapan atau dalam melakukan kegiatan;Suka mengeritik; Sosial Suka bermain sendiri. Egosentris Belajar bermain bersama;Mudah bergaul;Senang bekerjasama tetapi sering bertengkar Suka berkelompok;Setia kepada kawan daripada orangtua dan guru;Lebih suka aktivitas yang bersifat lomba Menghargai persahabatan;Menuntut kebebasan;Mulai memberontak
Spritual Suka meniru, percaya pada orang dekatnya (orangtua, saudara, dll) Suka membandingkan dengan orang lain Suka beribadah Berada dalam kondisi jiwa yang tidak stabil

6. Waktu bercerita
Menurut ilmu jiwa perkembangan anak bahwa seorang anak mampu mendengar dengan baik cerita orang lain adalah 2 menit x umurnya. Jadi ketika seorang anak 5 tahun, dia hanya sanggup mendengar dengan baik 10 menit saja. Demikian seterusnya
7. 10 Prinsip Yang Dimiliki Oleh Seorang Guru SM dan 10 Yang Mesti Dihindari

  1. Meyakini panggilan-Nya sebagai guru penuh waktu – Jangan merusak kekudusan hidup anda
  2. Memahami visi dan misinya sebagai guru – Jangan mengajar tanpa persiapan
  3. Hidup dipimpin dan mengandalkan Tuhan melalui Roh Kudus – Jangan meremehkan anak-anak
  4. Rela mempersembahkan totalitas dirinya bagi pelayanan anak – Jangan berpenampilan yang tidak pantas (pakaian, gaya dan sikap)
  5. Selalu berdoa syafaat bagi anak-anak – Jangan datang terlambat
  6. Hadir dan mengajar dengan cinta dan kasih sayang – Jangan asal bicara
  7. Menjadi seorang gembala yang baik (teladan) bagi anak didik – Jangan bertingkah laku memalukan (marah-marah, tidak peduli, dll)
  8. Peduli dengan anak didik dimana dan kapan saja – Jangan membuka mata sewaktu berdoa
  9. Selalu belajar dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki – Jangan berbicara sendiri saat kegiatan di kelas
  10. Menjadi mitra yang baik bagi pelayan lainnya dan orang tua anak didik – Jangan melupakan janji kepada anak-anak

8. Sebuah Contoh Mengolah Cerita : ”Yesus Memberi Makan 5000 orang” (Luk 9:10-17)
Tujuan Umum : Agar anak dapat mengetahui tentang cerita Yesus memberi makan 5000 orang
Tujuan Khusus :

  • Agar anak dapat menceritakan kembali tentang Yesus memberi makan 5000 orang
  • Agar anak dapat menyebutkan beberapa cara ketika berada dalam kesulitan
  • Agar dapat menyebutkan cara mengasihi sesama yang kesulitan
  • Agar anak dapat menyebutkan bagian cerita yang berkesan kepadanya

Tokoh di dalam cerita : Yesus, Murid-murid, orang banyak, anak pemilik roti dan ikan
Alat peraga: gambar orang banyak, gambar ikan & roti.
Tahapan kegiatan mengajar:
Kegiatan I Pada awal cerita, anak-anak dapat ditanyakan bagaimana perasaan mereka ketika merasakan lapar.
Kegiatan 2 Menceritakan tentang Yesus memberi makan 5000 orang
Kegiatan 3 Menekankan kepada bagian seorang anak yang membantu Yesus dengan memberi makanan yang dimilikinya (dapat membawa gambar roti dan ikan)
Kegiatan 4 Dapat menanyakan kepada murid tentang apa yang dilakukan seperti cerita alkitab (dapat diperankan oleh anak-anak)
Kegiatan 5 Mengajak anak-anak berdoa untuk peduli kepada sesama dan saling mengasihi.

9. Penutup
Menjadi Guru SM adalah tugas yang mulia. Karena ditangan kitalah perkembangan anak-anak berada untuk ke depan. Untuk itu marilah kita melaksanakannya dengan penuh sukacita sambil penyerahan diri di dalam tangan Tuhan.
________________________________________
Reverenci:
1. Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran & Praktek PAK: Dari Dari Yohanes Comenius – Perkembangan PAK di Indonesia, (Jakarta:BPK-GM, 1997), hlm. 801-802. Kurikulum 88 ini adalah hasil dari Konsultasi Tentang Pendidikan Kristen di Salatiga, tanggal 11-13 September 1986 & Seminar PAK yang berapat di Jakarta, tanggal 22-23 Februari 1988.
2. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar (Bandung:Yayasan Kalam Hidup), hlm. 92-94
3. Ruth. S. Kadarmanto, Tuntunlah Ke Jalan Yang Benar:Panduan Mengajar Anak di Jemaat (Jakarta:BPK-GM, 2004), hlm. 89-105
4. Paulus Lie, Mereformasi SM:8 Kiat Praktis Menjadikan SM Berpusat Pada Anak, (Yogyakarta:ANDI, 2003), hlm. 93-108)

Your ads will be inserted here by

AdSense Now!.

Please go to the plugin admin page to paste your ad code.

Tagged with:
 

One Response to Pembinaan Guru Sekolah Minggu

  1. Helen Sianipar says:

    Terimakasih sharingnya amang. Saya memang bukan seorang guru SM. Tapi memang saya melihat kecenderungan orang tua menganggap anak2 SM bukan urusan nya. Dan pihak gereja kadang juga melihat anak2 ini sebagai hiburan yg lucu, bukan sebagai fokus pelayanan. Salut kpd guru2 SM yg seringkali seperti berusaha sendiri. Semoga note ini bisa menguatkan dan menopang pelayanan guru2 SM. Tuhan memberkati guru2 SM!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Looking for something?

Use the form below to search the site:


Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Switch to our mobile site